MWCNU Sooko Siapkan Peringatan Hari Santri 2026, Perkuat Tradisi Ulama dan Semangat Kebangsaan

SOOKO – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sooko bersiap menggelar rangkaian kegiatan Peringatan Hari Santri 2026 pada 21–22 Oktober 2026. Mengusung semangat “Santri Berdaya Indonesia Jaya”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat akar tradisi keulamaan sekaligus meneguhkan komitmen santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung selama dua hari dengan memadukan agenda spiritual, kebersamaan warga, dan penguatan nilai kebangsaan. Seluruh rangkaian tersebut dirangkum dalam semangat “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.”
Kegiatan akan diawali pada Rabu, 21 Oktober 2026, melalui agenda ziarah muassis dan istighosah di Masjid Baitul Mukarrom, Kalimangu. Agenda ini menjadi ruang refleksi untuk mengenang jasa para pendiri dan ulama pendahulu, sekaligus memanjatkan doa agar perjuangan mereka dalam membimbing umat dan merawat kehidupan beragama senantiasa memberikan manfaat bagi generasi penerus.
Ziarah muassis juga mengandung pesan penting tentang kesinambungan perjuangan. Bagi warga Nahdlatul Ulama, menghormati para pendahulu bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan juga merawat nilai keikhlasan, pengabdian, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian peringatan akan berlanjut pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, melalui kegiatan kenduri dan apel Hari Santri 2026 di Masjid Putih Baitussalam, Sooko.
Kenduri diharapkan menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga, sedangkan apel Hari Santri menjadi momentum untuk meneguhkan identitas santri sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa. Keduanya merepresentasikan hubungan antara nilai keagamaan, solidaritas sosial, dan semangat kebangsaan yang telah tumbuh dalam tradisi pesantren.
Santri Berdaya, Tradisi Terjaga, Indonesia Jaya
Semangat “Santri Berdaya Indonesia Jaya” dalam peringatan ini menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan zaman. Santri tidak hanya dituntut menjaga tradisi keilmuan dan akhlak, tetapi juga diharapkan mampu berkontribusi dalam pendidikan, kehidupan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta kemajuan bangsa.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, nilai-nilai pesantren tetap memiliki relevansi sebagai fondasi moral dalam membangun masyarakat yang berintegritas, berkeadaban, dan menjunjung tinggi persatuan.
Sementara itu, pesan “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap tradisi keagamaan dapat berjalan beriringan dengan komitmen kebangsaan. Merawat warisan ulama dan menjaga persatuan Indonesia merupakan dua tanggung jawab yang saling menguatkan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, MWCNU Sooko diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan warga Nahdlatul Ulama sekaligus menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum untuk memperbarui komitmen pengabdian kepada agama, masyarakat, dan bangsa.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan para ulama perlu diteruskan melalui karya, keteladanan, dan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.
